Banggai Kepulauan
Kembali

Paisu Pok
Cerita di balik nama dan keberadaan Paisu Pok memiliki beberapa versi yang beredar secara lisan di kalangan masyarakat, namun salah satu yang paling populer adalah kisah mengenai pernikahan seorang putri raja. Menurut penuturan warga setempat, dahulu kala pernah diadakan pesta pernikahan kerajaan yang sangat meriah, berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Pada masa itu, rumah rumah masyarakat masih berupa rumah panggung yang dibangun dari kayu dan bambu. Kemeriahan pesta diiringi dengan alunan alat musik tradisional seperti gendang, yang dimainkan bersamaan dengan tari tradisional khas, yaitu Tari Salendeng. Tak hanya para penari, para tamu undangan pun ikut menari bersama mengikuti irama gendang yang menggema di seluruh kampung. Saking meriahnya suasana, bahkan alat sederhana seperti pongisuk—sebatang lidi yang biasa digunakan untuk mengukur kematangan makanan di dalam kuali—ikut bergoyang sendiri seirama dengan bunyi gendang. Karena lantai rumah terbuat dari susunan kayu dengan celah-celah di antaranya, pongisuk yang bergoyang kemudian melompat-lompat di sela-sela papan tanpa sentuhan manusia. Fenomena ini begitu langka dan tak lazim sehingga memicu gelak tawa dari masyarakat yang menyaksikannya. Namun, tawa tersebut ternyata dianggap sebagai pelanggaran terhadap norma adat, yang dalam budaya setempat dikenal sebagai tindakan pamali. Konon, akibat dari sikap tidak hormat tersebut, muncullah angin puting beliung besar yang menyapu dan memutar segala sesuatu di sekitarnya—manusia, rumah, bahkan pepohonan. Bencana tersebut meninggalkan sebuah lubang besar yang dipenuhi oleh sisa-sisa reruntuhan seperti batang pohon dengan akar-akarnya, batu, dan puing-puing lainnya. Lubang ini kemudian terisi air dan dikenal hingga kini sebagai Paisu Pok. Secara etimologis, dalam bahasa Banggai, paisu berarti air, dan pok berarti hitam. Sumber yang beredar menyatakan bahwa nama tersebut muncul karena air di lokasi tersebut memantulkan warna hitam akibat batang pohon di dasar air yang ditumbuhi lumut. Namun, yang sebenarnya secara historis, nama Pok berasal dari nama sang putri raja—Muluko Mupok, seorang perempuan berkulit hitam eksotis yang dikenal sangat cantik dan anggun. Dari namanya inilah situs tersebut dinamai Paisu Pok, yang secara simbolik berarti “air” yang disematkan pada nama Putri Mupok.
🌀 Nilai Budaya:
Simbol kesakralan dan penghormatan terhadap adat pamali
🎫 Tiket Masuk
Gratis